Langsung ke konten utama

Waroeng Syair-Syair Kerinduan

 


Kolom khusus  Kumpulan puisi-puisi Kerinduan

Ceceran tulisan dalam puisi, corat-coret sketsa perjalanan sejak tahun 90-an hingga sekarang. 

________&&&&________


Aku bukan Penyair,

Aku hanyalah orang yang tenggelam

dalam kata,

Mati terkubur bersama Puisi itu sendiri.

....

Aku bukan Penyair...


(Jakarta 1994, Malam Kenangan Chairil Anwar)


___________&&&&&&___________




Ketika musim bunga-bunga mekar

dan saat warna-warni kupu-kupu 

beterbangan.

Cintaku tiba bersamanya.

(Salatiga, Juni 2020)


___________&&&&&_________



Aku menahan diri untuk tidak bertanya

bagaimana kabarmu.

Aku menahan diri agar kau tidak tahu 

betapa aku merindukanmu. Aku menahan diri

agar tidak selalu mencemaskanmu.

Aku pura-pura sibuk...

(Jakarta, November 1995)



_________&&&&&&_________


Kita tidak pernah tahu kebenaran Cinta

sejati.

Yang penting

tetaplah di jalan kebaikan.

Biarkan Tuhan yang memutuskan.

(Baciro - Yogyakarta 1996)



_______&&&_________












Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANGKUR JENGGLENG

Pangkur Jenggleng is a traditional Javanese dance and song that originated from the region of Yogyakarta in Indonesia.  The word "pangkur" refers to a genre of Javanese folk songs, while "jenggleng" is the name of the dance that is performed along with the music. This cultural art form has been passed down through generations in Java and holds significant historical and artistic value. The Pangkur Jenggleng performance typically features a group of dancers moving gracefully to the rhythmic beats of traditional Javanese music. The dancers wear colorful costumes and accessories that represent the rich cultural heritage of the region.  The movements of the performers are intricate and detailed, showcasing their skill and mastery of the art form. The music of Pangkur Jenggleng is equally important in conveying the emotions and stories of the performance.  The traditional Javanese instruments used in the music include the gamelan, a set of percussion instruments, and the...

Kamarintah, Republiken, Kamardikan dan Sego Godog

Sekitar tahun 80-an hingga awal 90-an sebuah gerobak kecil mangkal di seberang jalan Rumah Sakit Tentara Dokter Asmir Salatiga. Setiap malam gerobak tua dengan anglo arang yang selalu menebarkan asap " kemeluk " tebal itu, selalu dipenuhi oleh orang-orang yang asyik ngobrol. Air bekas cucian gelas kotor kopi dan teh bolak-balik dibuang di selokan.  Orang-orang menambahkan gumpalan-gumpalan " keluk " rokok diantara asap arang kelapa dari anglo yang pernah putus. Sego godog. Tangan tua yang dipenuhi keriput, dengan cekatan menuangkan air, menambahkan nasi , menambahkan bumbu. Mengaduk-aduk. Diakhiri dengan " nyiduk " nasi berkuah yang kebul-kebul, menuangkannya ke dalam piring. Begitulah sang tangan tua keriput itu berulang kali menjalankan ritual yang sama. Dan selalu akan ada tangan lain yang berganti-ganti, mengambil dan menerima piring isi nasi berkebul-kebul dari tangan keriputnya. Kadang-kadang di saat rehat, saat semua pelanggannya sudah menerima piri...

The Long Story Of Kopi Tubruk in Indonesia

"Kopi Tubruk" is one of authentic Indonesian coffee with a rich history and a unique brewing method. Let me tell you more about it. Mud coffee, or kopi tubruk, is a traditional way of making coffee in Indonesia by pouring hot water over finely ground coffee beans and sugar, without filtering them.  The result is a thick, strong, and flavorful coffee with a layer of sediment at the bottom of the cup.   The history of kopi tubruk dates back to the 17th century, when coffee was introduced to Indonesia by the Dutch colonizers. At that time, coffee was a luxury item that only the elite could afford. However, a Chinese merchant named Tjak Thie Tjin, who lived in Batavia (now Jakarta), popularized coffee among the local people by selling it at a low price.   He also taught them how to make kopi tubruk by using a mortar and pestle to grind the coffee beans, and then mixing them with sugar and hot water in a glass or a pot.   Kopi tubruk became a favorite dri...